June 13, 2013

KEHAMILAN (EKLAMSIA DAN PRE EKLAMSIA) LENGKAP

Eklamsia merupakan salah satu bentuk komplikasi yang cukup serius yang dapat terjadi dalam kehamilan dan umumnya terjadi pada kehamilan anak pertama dengan usia kehamilan 20-40 minggu. Selain infeksi dan perdarahan, eklamsia masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Walau penyebab eklamsia hingga saat ini belum diketahui, namun dapat dicegah, agar Ibu tidak jatuh dalam kondisi eklamsia yang berat.
Apa itu eklamsia?
Masyarakat umum lebih mengenal eklamsia sebagai keracunan dalam kehamilan, walau sebetulnya istilah kecacunan dalam kehamilan telah lama ditinggalkan, karena penyebabnya tidak ditemukan ’racun’ yang menyebabkan kelainan ini. Eklamsia biasanya didahului oleh gejala pre-eklamsia, dan bila mengalami serangan kejang pada eklamsia, penderitanya dapat menjadi tidak sadar atau koma. Sebetulnya eklamsia dapat dicegah dengan pemantauan kehamilan sejak awal dan kunjungan rutin ke bidan atau dokter ahli kandungan .Oleh karena itu periksaan ante natal atau pemeriksaan kehamilan secara rutin memegang peranan yang sangat penting dalam pencegahan eklamsia.
Gejala dan tanda eklamsia
Pre-eklamsia ditandai oleh tanda-tanda tekanan darah yang tinggi, adanya protein pada urin dan bengkak saat kehamilan. Tiga tanda (trias) ini sangat perlu diwaspadai saat ditemukan dalam kehamilan agar segera ditangani dan Ibu tidak jatuh dalam eklamsia.
Serangan kejang pada eklamsia terjadi akibat kondisi pre-eklamsia yang tidak terkendali. Sebelum serangan kejang, biasanya Ibu merasakan sakit kepala yang hebat di bagian dahi, penglihatan kabur, nyeri ulu hati dan mual. Serangan kejang dapat diikuti dengan penurunan kesadaran dan berbagai komplikasi berat lainnya, seperti lepasnya plasenta dari dinding rahim, perdarahan otak, janin lahir prematur, dan yang paling fatal adalah kematian ibu dan janin.
Pencegahan Eklamsia
Umumnya eklamsia dapat dicegah, dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur sejak awal, sehingga dokter atau bidan dapat menemukan gejala-gejalanya sedini mungkin dan segera ditangani. Dengan demikian, Ibu tidak akan jatuh ke dalam kondisi eklamsia.
Namun bila pemeriksaan kehamilan telah dilakukan dengan sebaik mungkin namun gejala tetap tidak membaik, walau telah diberikan obat oleh dokter, maka bila kehamilan mencapai usia 37 minggu dapat dilakukan persalinan segera untuk menyelamatkan Ibu dan bayi.
Nah, untuk jelasnya, Ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter atau bidan. Dengan menjaga kesehatan sebaik mungkin, maka diharapkan dapat menurunkan risiko terkena pre-eklamsi atau eklamsia.

Eklamsia dan Preeklamsia

Preeklamsia dan Eklamsia. Melanjutkan postingan kemarin mengenai kehamilan resiko tinggi yang salah satu tandanya adalah eklamsia dan juga preeklamsia. Nah kali ini Blog Keperawatan akan mencoba sharing sedikit mengenai apa yan dimaksud dengan eklamsia dan preeklamsia. Dan semoga dengan kita mengenal preeklamsia dan eklamsia akan memberikan manfaat.

Mengenai penyebab eklamsia dan juga penyebab preeklamasia ini memang belum diketahui secara pasti. Penyakit ini dianggap sebagai "maladaptation syndrome" akibat vasospasme general dengan segala akibatnya. Ada beberapa faktor yang seringkali menjadi faktor penunjang kejadian eklamsia dan preeklamsia diantaranya yaitu gangguan aliran darah ke dalam rahim (iskemia plasenta), gizi yang buruk dan juga ada yang menyebutkan karena pengaruh obesitas, kurangnya sirkulasi oksigen ke plasenta.

preeklamsia, eklamsia, Blog Keperawatan

Selanjutnya kita menginjak kepada pengertian preeklamsia ini. Jadi preeklamsia adalah suatu kondisi yang bisa terjadi pada ibu hamil. Gejala tanda preeklamsia ini yaitu :
  1. Hipertensi. Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih; diastol 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau
  2. sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg; diastol 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg.
  3. Proteinuria. Bila dihitung secara kuantitatif lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif positif 2 (+2). Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemeriksaan urine pasien.
  4. Edema. Edema ini biasanya terjadi pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
Ada juga yang dimaksud dengan preeklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa. (Prawirohardjo 2005 yang dikutip oleh Rukiyah (2010).
Selanjutnya kita menginjak kepada pengertian eklamsia ini. Eklamsia adalah merupakan penyakit akut dengan kejang-kejang dan koma pada wanita hamil dan wanita dalam masa nifas disertai dengan hipertensi, edema, dan proteinuria (Pusdiknes, Depkes RI, 1990;9).

Faktor predisposisi (faktor resiko) terjadinya eklamsia dan preeklamsia adalah :
  1. Hipertensi.
  2. Diabetes melitus.
  3. Gangguan ginjal kronik.
  4. Primi gravida tua.
Demikian sahabat yang sedikit mengenai mengenal akan eklamsia dan preeklamsia dan selanjutnya nanti akan diposting mengenai perawatan preeklamsia dan eklamsia ini dan juga jenis preeklamsia dan semoga dapat berguna dan memberikan manfaat sahabat semuanya.

PRE EKLAMSIA (KERACUNAN KEHAMILAN)


Konsep Pre-Eklamsi
1  Pengertian Pre-eklamsia
Preeklamsia dan eklamsia merupakan kumpulan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : proteinuri, hipertensi,dan edema, yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan-kelainan vaskular atau hipertensi sebelumnya ( Mochtar, 2007).

Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa Prawirohardjo 2005 yang dikutip oleh Rukiyah (2010).
2  Etiologi
Menurut Mochtar (2007), Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya.oleh karena itu disebut ”Penyakit teori”, namun belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang sekarang dipakai sebagai penyebab preeklamsia adalah teori ”iskemia plasenta”. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit ini.
      Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan : (a) Mengapa frekuensi menjadi tinggi pada: primigravida, kehamilan ganda, hidramnion,dan molahidatidosa; (b) Mengapa frekuensi bertambah seiring dengan tuanya kehamilan ,umumnya pada triwulan ke III; (c)Mengapa terjadi perbaikan keadaan penyakit, bila terjadi kematian janin dalam kandungan; (d) mengapa frekuensi menjadi lebih rendah pada kehamilan berikutnya; dan (e) Penyebab timbulnya hipertensi,proteinuria,edema dan konvulsi sampai koma. Dari hal-hal tersebut diatas, jelaslah bahwa bukan hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklamsia dan eklamsia.
Adapun teori-teori yang dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia adalah :
a)      Peran prostasiklin dan trombiksan
Pada preeklamsia dan eklamsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskular, sehingga terjadi penurunan produksi prostsiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktifasi pengumpulan dan fibrinolisis, yang kemudian akan digant trombin dan plasmin,trombin akan mengkonsumsi anti trombin III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktifasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
b)   Peran faktor imunologis
Menurut Rukiyah (2010), Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E, beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum, beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria.
c)      Faktor genetik
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain : (1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia; (2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E; (3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka; (4) peran renin-angiotensin-aldosteron sistem (RAAS).
Yang jelas preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, disamping infeksi dan perdarahan, Oleh sebab itu, bila ibu hamil ketahuan beresiko, terutama sejak awal kehamilan, dokter kebidanan dan kandungan akan memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut.
Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia. Faktor-faktor tersebut antara lain,gizi buruk, kegemukan, dan gangguan aliran darah kerahim. Faktor resiko terjadinya preeklamsia, preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan, riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya, riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan, kegemukan,mengandung lebih dari satu orang bayi, riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid artritis.
3  Patofisiologi
Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.
Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.
4  Klasifikasi
Menurut Mochtar (2007), Dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1)   Pre-eklamsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut
a)             Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang: atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan jarak 1 jam,sebaiknya 6 jam.
b)             Edema umum, kaki jari tangan, dan muka, atau kenaikan berat badan ≥ 1 kg per minggu.
c)             Proteinuria kwantitatif  ≥ 0,3 gr per liter,kwalitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream.
2)   Pre-eklamsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :
a)             Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b)             Proteinuria ≥ 5gr per liter.
c)             Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
d)            Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium.
e)             Terdapat edema paru dan sianosis.
5  Perubahan Pada Organ-Organ
                 Menurut Mochtar (2007) pada penderita preeklamasi dapat terjadi perubahan pada organ-organ, antara lain :
 1)   Otak
Pada pre-eklamsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklamsia, resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.
2)   Plasenta dan rahim
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-eklamsia dan eklamsiasering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaanya terhadap rangsang, sehingga terjadi partus prematus.
3)   Ginjal
Filtrasi glomerolus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerolus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerolus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.
4)   Paru-paru
Kematian ibu pada pre-eklamsia dan eklamsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan decompensasi cordis. Bisa pula karena terjadinja aspirasi pnemonia,atau abses paru.
5)        Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus di curigai terjadinya pre eklamsia berat. Pada eklamsia dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan odema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang dapat menunjukkan tanda pre-eklamsia berat adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri,atau di dalam retina.
6)   Keseimbangan air dan elektrolit
Pada pre-eklamsia ringan biasanya tidak dijumpai perubahan yang nyata pada metabolisme air, elektrolit, kristaloit, dan protein serum. Jadi, tidak terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Gula darah, kadar natrium bikarbonat dan pH darah berada berada pada batas normal. Pada pre-eklamsia berat dan eklamsia, kadar gula darah naik sementara, asam laktat dan asam organik lainya naik,sehingga cadangan alkali akan turun. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. Setelah konvulsi selesai zat-zat organik dioksidasi, dan dilepaskan natrium yang lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium bikarbonat. Dengan demikian cadangan alkalidapat kembali pulih normal.
Oleh beberapa penulis/ahli kadar asam urat dalam darah dipakai untuk menentukan arah preeklamsia menjadi baik atau tidak setelah penanganan.
6  Frekuensi
Ada yang melaporkan angka kejadian sebanyak 6% dari seluruh kehamilan, dan 12% pada kehamilan primigravida. Menurut beberapa penulis lain frekuensi dilaporkan sekitar 3-10%.
Lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada multigravida, terutama primigravida usia muda.
Faktor-faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia adalah molahidatidosa, diabetes melitus, kehamilan ganda, hidrops fetalis, obesitas, dan umur yang lebih dari 35 tahun (Mochtar, 2007).
7  Diagnosis
Menurut Mochtar (2007), Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1)      Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi, dan timbul proteinuria.
Gejala subjektif : sakit kepala didaerah frontal,nyeri epigastrium; gangguan visus; penglihatan kabur, skotoma, diplopia;  mual dan muntah. Gangguan serebral lainya : Oyong, reflek meningkat, dan tidak tenang.
2)      Pemeriksaan : tekanan darah tinggi, refleks meningkat, dan proteinuria pada pemeriksaan laboratorium.
.8  Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklamsia adalah :
1)      Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinya.
2)      Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
3)      Pemulihan sempurna kesehatan ibu
Pada kasus preeklasmia tertentu, terutama pada wanita menjelang atau sudah aterm, tiga tujuan tersebut dapat terpenuhi oleh induksi persalinan. Dengan demikian, informasi terpenting yang perlu dimiliki oleh ahli obstetri agar penanganan kehamilan berhasil dan terutama kehamilan dengan penyulit hipertensi, adalah kepastian usia janin (Cuningham dkk,2005).
Penanganan Preeklamsia ringan menurut Cuningham dkk. (2005), dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni :
1)      Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan, dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring,tidur/miring), diet : cukup protein, rendah karbohidrat,lemak dan garam; pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang selama 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.
2)      Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.
Bila setelah satu minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat. Jika dalam perawatan dirumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.
                    Perawatan obstetri pasien preeklamsia menurut Rukiyah (2010) adalah :
                    
1)      Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensi selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensi selama perawtan maka kehamilanya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
2)      Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) : persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan paa taksiran tanda persalinan.
3)      Cara persalinan : persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II.
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
1)      Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal.
2)      Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal.
2.  Konsep  Pencegahan Preeklamsi
                        Menurut Cuningham dkk. (2005), Berbagai strategi telah digunakan sebagai upaya untuk mencegah preeklamsia. Biasanya strategi-strategi ini mencakup manipulasi diet dan usaha farmakologis untuk memodifikasi mekanisme patofisiologis yang diperkirakan berperan dalam terjadinya preeklamsia. Usaha farmakologis mencakup pemakaian aspirin dosis rendah dan antioksidan.
1  Manipulasi diet
Salah satu usaha paling awal yang ditujukan untuk mencegah preeklamsia adalah pembatasan asupan garam selama hamil, Knuist dkk. (1998) yang dikutip oleh Cuningham (2005).
Berdasarkan sebagian besar studi di luar amerika serikat, ditemukan bahwa wanita dengan diet rendah kalsium secara bermakna beresiko lebih tinggi mengalami hipertensi akibat kehamilan. Hal ini mendorong dilakukanya paling sedikit 14 uji klinis acak yang menghasilkan metaanalisis yang memperlihatkan bahwa suplementasi kalsium selama kehamilan menyebabkan penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah preeklamsia. Namun studi yang tampaknya definitif dilakukan oleh Lavine dkk.,(1997) yang dikutip oleh Cuningham (2005). Studi ini adalah suatu uji klinis acak yang disponsori oleh the National Institute of Child Health and Human development. Dalam uji yang menggunakan penyamar-ganda ini,4589 wanita nulipara sehat dibagi secara acak untuk mendapat 2g suplemen kalsium atau plasebo.
Manipulasi diet lainya untuk mencegah preeklamsia yang telah diteliti adalah pemberian empat sampai sembilan kapsul yang mengandung minyak ikan setiap hari. Suplemen harian ini dipilih sebagai upaya untuk memodifikasi keseimbangan prostaglandin yang diperkirakan berperan dalam patofisiologi preeklamsia.
2  Aspirin dosis rendah
Dengan aspirin 60 mg atau plasebo yang diberikan kepada wanita primigravida peka-angiotensin pada usia kehamilan 28 minggu. Menurunya insiden preeklamsi pada kelompok terapi diperkirakan disebabkan oleh supresi selektif sintesis tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin. Berdasarkan laporan ini dan laporan lain dengan hasil serupa, dilakukan uji klinis acak multisentra pada wanita beresiko rendah dan tinggi di amerika serikat dan negara lain. Uji-uji klinis ini secara konsisten menperlihatkan aspirin dosis rendah efektif untuk mencegah preeklamsia. Dalam suatu analisis sekunder terhadap uji klinis intervensi resiko-tinggi, memperlihatkan bahwa pemberian aspirin dosis rendah secara bermakna menurunkan kadar tromboksan B2 ibu.
3  Antioksidan
Serum wanita hamil normal memiliki mekanisme antioksidan yang berfungsi mengendalikan peroksidasi lemak yang diperkirakan berperan dalam disfungsi sel endotel pada preeklamsia. serum wanita dengan preeklamsia memperlihatkan penurunan mencolok aktivitas antioksidan. Schirif dkk.,(1996) yang dikutip oleh Cuningham (2005), menguji hipotesis bahwa penurunan aktifitas antioksidan berperan dalam preeklamsia dengan mempelajari konsumsi diet serta konsentrasi vitamin E dalam plasma pada 42 kehamilan dengan 90 kontrol. Mereka menemukan kadar vitamin E plasma yang tinggi pada wanita dengan preeklamsia, tetapi konsumsi vitamin E dalam diet tersebut tidak berkaitan dengan preeklamsia. Mereka berspekulasi bahwa tingginya kadar vitamin E yang diamati disebabkan oleh respons terhadap stres oksidatif pada preeklamsia.
Penelitian sistematik pertama yang dirancang untuk menguji hipotesis bahwa terapi antioksidan untuk wanita hamil akan mengubah cedera sel endotel yang dikaitkan dengan preeklamsia. Sebanyak 283 wanita hamil 18 sampai 22 minggu yang beresiko preeklamsia dibagi secara acak untuk mendapat terapi antioksidan atau plasebo. Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini mungkin bermanfaat untuk mencegah preeklamsia. Juga terjadi penurunan bermakna insiden preeklamsia pada mereka yang mendapat vitamin C dan E dibandingkan dengan kelompok kontrol (17 versus 11 persen,p <0 p="">
4  Pemeriksaan antenatal
Pemeriksaan antenatal care yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (preeklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia kalau ada faktor-faktor predisposisi, memberikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diet rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan (Mochtar,2007).
               Terapi paling efektif adalah pencegahan. Pada awal perawatan prenatal,identifikasi wanita hamil yang beresiko tinggi, pengenalan, dan laporan gejala-gejala peringatan fisik merupakan komponen inti untuk mengoptimalkan hasil pada maternal dan perinatal. Kemampuan perawat dalam memeriksa faktor-faktor dan gejala-gejala preeklamsia pada klien tidak dapat terlalu dihrapkan. Perawat dapat melakukan banyak hal dalam tugas pendukung. Tindakan harus diambil untuk menambah pengetahuan dan akses publik pada perawatan antenatal. Konseling, penyerahan sumberdaya masyarakat, pengerahan sistem pendukung, konseling nutrisi dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan merupakan komponen pencegahan yang esensial pada perawatan (Bobak, Jensen.2000).
Dr. Suparyanto, M.Kes
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Azwar, Saifuddin.2009. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuranya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bobak, Margaret Duncan. 2000. Perawatan Maternitas dan Ginekologi. Bandung       : YIA-PKP
Cuningham, F. Gary.Dkk. 2005. Obstetri Williams. Jakarta : EGC
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika
Machfoedz, Eko Suryani. 2009. Pendidikan Kesehatan Bagian Dari Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Firamaya
Manuaba, I.A Candradinata.Dkk. 2008 . Gawat Darurat Obstetri Ginekologi Dan Obstetri Ginekologi Social Untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC
Manuaba, I.B Gde. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC
Maulana, D.J Heri. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 2007. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Nursalam, Siti Pariani. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Infomedika
Nursalam.2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Notoatmodjo, Sukidjo. 2010. Metodologi Riset Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta
 Notoatmodjo, Sukidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta
 Notoatmodjo,Sukidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Perry, Potter. 2005. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. Jakarta : EGC
Rukiyah, Lia Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan 4 Patologi.Jakarta : TIM
Salmah. Dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC
Sastrawinata, Sulaiman.Dkk. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC
Syarifudin, Yudhia Fratidhina. 2009. Promosi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kebidanan.Jakarta : TIM
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Yulianti, Devi.2005. Buku Saku Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2010 Angka Kematian Ibu.www.Google.com. Download 3 November 2011
Ensiklopedia bebas berbahasa 2011, Pengetahuan .www. Wikipedia. Co.Id. download:3 November 2011
IndonesiaMDG_BI. 2007.pdf. www.google.com. Download 3 november 2011
Profil Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 2006. www.google.com.Download 3 November 2011

PREEKLAMSIA DAN EKLAMSIA


Apa Preeklamsia?
Sebelumnya disebut toksemia, preeklamsia adalah suatu kondisi yang wanita hamil berkembang. Hal ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tingkat tinggi protein dalam urin. Wanita preeklampsia akan sering juga mengalami pembengkakan di kaki, kaki, dan tangan. Kondisi ini biasanya muncul pada paruh kedua kehamilan, sering di bagian akhir dari kedua atau pada trimester ketiga, meskipun dapat terjadi sebelumnya.


Jika tidak terdiagnosis, preeklamsia dapat menyebabkan eklampsia, suatu kondisi serius yang dapat membuat Anda dan bayi Anda beresiko, dan dalam kasus yang jarang terjadi, menyebabkan kematian. Perempuan dengan preeklamsia yang mengalami kejang dianggap memiliki eklampsia.

Tidak ada cara untuk menyembuhkan preeklamsia, dan itu bisa menjadi prospek yang menakutkan bagi ibu-to-be. Tapi Anda dapat membantu melindungi diri dengan mempelajari gejala preeklampsia dan dengan melihat dokter Anda untuk perawatan kehamilan secara rutin. Ketika preeklampsia tertangkap lebih awal, lebih mudah untuk mengelola.

Eklampsia
Eklampsia adalah kejang (konvulsi) pada wanita hamil yang tidak terkait dengan kondisi otak yang sudah ada sebelumnya.

Penyebab

Penyebab eklampsia belum dipahami dengan baik. Berikut ini mungkin memainkan peran:

Pembuluh darah masalah
Otak dan sistem saraf (neurologis) faktor
Diet
Gen
Eklampsia berikut preeklamsia, komplikasi yang serius dari kehamilan yang mencakup tekanan darah tinggi dan kelebihan berat badan dan cepat.

Sulit untuk memprediksi wanita dengan preeklamsia akan pergi untuk mengalami kejang. Wanita berisiko tinggi untuk kejang memiliki preeklampsia berat dan:

Abnormal tes darah
Sakit kepala
Sangat tekanan darah tinggi
Visi perubahan
Eklampsia terjadi pada sekitar 1 dari setiap 2.000 sampai 3.000 kehamilan. Berikut meningkatkan peluang seorang wanita untuk mendapatkan preeclampsia:

Menjadi 35 tahun atau lebih
Menjadi Afrika Amerika
Pertama kehamilan
Riwayat diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit ginjal
Beberapa kehamilan (kembar, kembar tiga, dll)
Remaja kehamilan
Gejala

Gejala eklampsia meliputi:

Nyeri otot dan nyeri
Kejang
Parah agitasi
Ketidaksadaran
Apa Penyebab Preeklamsia?
Penyebab pasti preeklampsia dan eklampsia - akibat dari plasenta yang tidak berfungsi dengan baik - tidak diketahui, meskipun beberapa peneliti menduga gizi buruk, lemak tubuh tinggi, atau aliran darah tidak cukup untuk rahim sebagai kemungkinan penyebab. Genetika memainkan peran, juga.

Siapa di Risiko untuk Preeklamsia?
Preeklamsia adalah yang paling sering terlihat pada pertama kali kehamilan, di usia remaja hamil, dan pada wanita di atas 40. Faktor risiko lain termasuk:

Sebuah riwayat tekanan darah tinggi sebelum kehamilan
Sebuah riwayat preeklampsia
Memiliki ibu atau saudara perempuan yang memiliki preeclampsia
Sebuah riwayat obesitas
Membawa lebih dari satu bayi
Riwayat diabetes, penyakit ginjal, lupus, atau rheumatoid arthritis
Apa Tanda dan Gejala Preeklamsia?
Selain bengkak, protein dalam urin, dan tekanan darah tinggi, gejala preeklampsia dapat meliputi:

Berat badan yang cepat keuntungan yang disebabkan oleh peningkatan yang signifikan dalam cairan tubuh
Sakit perut
Parah sakit kepala
Perubahan refleks
Mengurangi urin atau tidak ada urin
Pusing
Berlebihan muntah dan mual
Anda harus mencari perawatan segera jika Anda memiliki:

Tiba-tiba dan baru pembengkakan di wajah, tangan, dan mata (beberapa kaki dan pergelangan kaki bengkak adalah normal selama kehamilan.)
Tekanan darah lebih dari 140/90.
Berat badan mendadak keuntungan selama 1 atau 2 hari
Sakit perut, terutama di sisi kanan atas
Parah sakit kepala
Penurunan dalam urin
Kabur visi, lampu berkedip, dan floaters
Anda juga dapat memiliki preeclampsia dan tidak memiliki gejala apapun. Itulah mengapa begitu penting untuk melihat dokter Anda untuk pemeriksaan tekanan darah rutin dan tes urine.

Bagaimana Bisa Mempengaruhi Preeklamsia My Baby?
Preeklamsia dapat mencegah plasenta menerima cukup darah, yang dapat menyebabkan bayi Anda akan lahir sangat kecil. Hal ini juga salah satu penyebab utama kelahiran prematur, dan komplikasi yang dapat mengikuti, termasuk ketidakmampuan belajar, epilepsi, cerebral palsy, pendengaran dan masalah penglihatan.

Pada ibu-to-be, preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi yang jarang namun serius yang meliputi:

Pukulan
Penyitaan
Air di paru-paru
Kelumpuhan jantung
Reversible kebutaan
Pendarahan dari hati
Pendarahan setelah Anda melahirkan
Preeklamsia juga dapat menyebabkan plasenta tiba-tiba terpisah dari rahim, yang disebut placental abruption. Hal ini dapat menyebabkan bayi lahir mati.

Apa pengobatan untuk Preeklamsia dan Eklampsia?
Satu-satunya obat untuk preeklampsia dan eklampsia adalah untuk memberikan bayi Anda. Dokter Anda akan berbicara dengan Anda tentang kapan untuk menyampaikan berdasarkan seberapa jauh bersama bayi Anda, seberapa baik bayi Anda lakukan di dalam rahim Anda, dan tingkat keparahan preeklampsia Anda.

Jika bayi Anda sudah cukup berkembang, biasanya dengan 37 minggu atau lambat, dokter Anda mungkin ingin untuk menginduksi persalinan atau melakukan operasi caesar. Ini akan menjaga preeklamsia dari semakin buruk.

Jika bayi Anda tidak dekat dengan panjang, Anda dan dokter Anda mungkin dapat mengobati preeklampsia sampai bayi Anda telah berkembang cukup untuk secara aman disampaikan. Semakin dekat kelahiran adalah tanggal jatuh tempo Anda, semakin baik untuk bayi Anda.

Jika Anda memiliki preeklamsia ringan, dokter mungkin meresepkan:

Istirahat di tempat tidur baik di rumah atau di rumah sakit, Anda akan diminta untuk beristirahat terutama pada sisi kiri Anda.
Hati-hati observasi dengan monitor denyut jantung janin dan ultrasound sering
Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah Anda
Tes darah dan urin
Dokter mungkin juga merekomendasikan bahwa Anda tinggal di rumah sakit untuk pemantauan lebih dekat. Di rumah sakit Anda mungkin akan diberi:

Obat untuk membantu mencegah kejang, menurunkan tekanan darah Anda, dan mencegah masalah lain
Suntikan steroid untuk membantu paru-paru bayi Anda berkembang lebih cepat
Pengobatan lain meliputi:

Magnesium dapat disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk mencegah eklampsia berhubungan dengan kejang
Hydralazine atau lain obat antihipertensi untuk mengelola peningkatan tekanan darah yang parah
Pemantauan asupan cairan
Untuk preeklamsia berat, dokter Anda mungkin perlu untuk memberikan bayi Anda segera, bahkan jika Anda tidak dekat dengan panjang.

Setelah melahirkan, tanda dan gejala preeklamsia harus pergi dalam waktu 1 sampai 6 minggu
Menyusui oleh ibu dengan riwayat pre-eklamasi dan eklamsia



Pre-eklamsia adalah kelainan hipertensif pada ibu hamil yang
melibatkan multiorgan, ditandai dengan hipertensi, proteinuria
dan edema, setelah usia gestasi 20 minggu. Masalah ini ditemukan
pada tiga sampai enam persen kehamilan.
Ibu pre-eklamsia bisa mengalami kejang (eklamsia) atau varian lain
dengan gangguan fungsi hati serta trombositopenia yang dikenal
sebagai sindrom HELLP (Hemolysis, ELevated liver enzyme, Low
Platelet). Sindrom ini ditemukan pada 1/1000 kehamilan.
Beberapa masalah berikut bisa mengganggu proses menyusui /
pemberian ASI pada ibu pre-eklamsia atau eklamsia. Pertama,
bayi yang lahir potensial mengalami hambatan pertumbuhan dalam
rahim (IUGR – intra uterine growth restriction) karena vasospasme/
vasokonstriksi sistemik mengakibatkan insufisiensi plasenta,
sehingga bayi lahir dengan berat lahir rendah. Di samping itu, pada
pre-eklamsia berat atau eklamsia, terapi definitif adalah terminasi
kehamilan, sehingga seringkali bayi lahir lebih cepat dari yang
seharusnya (prematur). Kedua, ibu biasanya mendapat obat
obatan yang mungkin akan mengganggu produksi ASI atau beberapa
zat aktif mungkin bisa dikeluarkan melalui ASI. Ketiga, pada
proses kelahiran sebagian ibu dilakukan operasi caesar sehingga
ibu akan menjadi pasien pasca operasi dengan segala risiko dan
masalahnya. Keempat, adakalanya ibu-ibu dengan masalah ini,
terutama yang eklamsia memerlukan perawatan intensif / isolasi
sehingga seringkali dipisahkan dari bayinya. Masalah-masalah di
atas akan dipaparkan pada tulisan berikut, sehingga ibu dengan
pre-eklamsia / eklamsia bisa menyusui dengan sukses.
Mengenal pre-eklamsia dan eklamsia
Pre-eklamsia merupakan sindrom spesifik pada kehamilan yang
disebabkan oleh proses imunologis dengan mekanisme utama
berupa vasospasme dan aktivasi endotel di seluruh tubuh.
Vasospasme menyebabkan vasokonstriksi yang berlanjut menjadi
hipertensi dan gangguan aliran darah (iskemia) pada berbagai
organ, terutama end-organ seperti ginjal, hati, otak serta sirkulasi
uteroplasenta, sedangkan aktivasi endotel akan meningkatkan
permeabilitas kapiler sehingga terjadi ekstravasasi cairan ke
jaringan serta hemokonsentrasi di intrakapiler, juga terjadi
koagulopati konsumtif dengan aktivasi trombosit yang pada
gilirannya akan menimbulkan trombositopenia
Pada pre-eklamsia berat, bisa terjadi edema, oliguria, gangguan
visual dan serebral, nyeri epigastrium, edema paru serta sianosis.
Eklamsia merupakan kejang umum tonik-klonik yang bukan
disebabkan oleh gangguan neurologis, yang terjadi pada ibu dengan
pre-eklamsia. Eklamsia biasanya terjadi setelah usia gestasi 32
minggu, bisa terjadi sebelum, pada saat atau setelah kelahiran.
Kiat memberikan ASI
Seperti pada semua proses menyusui, edukasi kedua orangtua
sebelum dan setelah kelahiran merupakan komponen penting
untuk sukses. Dibutuhkan dukungan dari ayah untuk menemani
ibu selama proses kelahiran (jika memungkinkan) dan pada saatsaat
berikutnya.
Pemberian ASI pada ibu dengan pre-eklamsia dan eklamsia
tergantung pada kondisi ibu dan bayinya Jika memungkinkan,
inisiasi dini tetap dilakukan, bayi tetap diletakkan di atas perut ibu
untuk kontak kulit-dengan-kulit segera setelah lahir dan dibiarkan
di atas perut ibu, sampai selesai menyusu untuk pertama kalinya.
Pada keadaan ini, sangat penting untuk mengurangi ketegangan
(stres) dan rangsangan lain yang bisa memicu kejang pada
ibu. Kontak kulit-dengan-kulit yang dilakukan pada inisiasi dini
mempunyai efek terapeutik karena bisa menenangkan ibu (sedating
effect) sehubungan dengan keluarnya endorfin alami dari otak ibu.
Perawatan pada ibu tetap dilakukan dengan meminimalisasi obatobat
yang diberikan, terutama yang bisa mengganggu tingkat
kesadaran bayi (infant’s alertness) dan kemampuan menyusunya
(feeding behaviour). Jika pemberian ASI secara langsung tidak
memungkinkan, ASI perah (expressed breast milk) bisa diberikan.
Pengeluaran ASI harus dilakukan dengan teknik yang benar secara
teratur tiap 3 jam.
Pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas
Bayi yang lahir seringkali prematur dan/atau kecil masa kehamilan
serta mungkin memerlukan perawatan intensif, sehingga pemberian
ASI harus disesuaikan dengan kondisi bayi. Pada keadaan berat,
pemberian ASI bisa tertunda beberapa hari bahkan minggu. Petugas
kesehatan tetap harus menasihati ibu untuk mulai memerah ASI
dalam beberapa jam setelah kelahiran, walaupun belum segera
diberikan. ASI bisa disimpan di dalam lemari es.
Pemberian ASI dimulai saat kondisi hemodinamik bayi stabil dan
dinaikkan bertahap sampai tercapai minum penuh. Jika bayi belum
bisa menyusu langsung, ASI perah diberikan melalui pipa lambung
(OGT – orogastric tube).
Selama perawatan, ibu dianjurkan untuk ikut berpartisipasi, jika
keadaan ibu memungkinkan.Perawatan metode kanguru (PMK) bisa
dilakukan secara intermiten sewaktu bayi masih dalam perawatan
dan secara kontinu setelah bayi stabil atau akan dipulangkan. PMK
membantu ibu dan bayi secara emosional. ASI ibu akan lebih cepat
bertambah, ibu menjadi lebih tenang serta percaya diri untuk
merawat bayinya dan biasanya bayi bisa dipulangkan lebih cepat.
Operasi Caesar
Seperti sudah dipaparkan pada pendahuluan, operasi Caesar
membuat ibu menjadi pasien pasca operatif dengan segala
konsekuensinya. Jika operasi dilakukan secara terencana, biasanya
ibu lebih punya persiapan mental, berbeda dengan operasi darurat
yang secara psikologis lebih traumatis, di samping adanya masalah
pre-eklamsia dan eklamsia sendiri.
Saat ini, operasi Caesar sering dilakukan dengan anestesi
spinal atau epidural, sehingga ibu tetap sadar. Pada keadaan ini,
pemberian ASI tidak perlu ditunda, bayi boleh segera disusukan.
Jika ibu diberikan anestesi umum, ASI diberikan setelah ibu sadar
dan responsif terhadap keadaan sekitarnya. Posisi sesuai dengan
keadaan ibu, misalnya dimulai dengan posisi berbaring.
Cairan dan obat-obatan yang diberikan secara umum tidak
mengganggu proses menyusui, dianjurkan untuk menggunakan
obat dengan masa kerja pendek dan diberikan kepada ibu segera
setelah payudara dikosongkan (setelah bayi menyusu), sehingga
kadar puncak tercapai sebelum saat menyusui berikutnya. Hatihati
dengan pemakaian preparat meperidine (Demerol/Pethidine),
karena bisa menyebabkan bayi mengantuk dan malas menyusu.
Demam ringan yang kadang-kadang diderita ibu tidak mengganggu
laktasi, bayi boleh tetap disusui.

Pemakaian obat-obatan pada ibu
Terapi definitif dari pre-eklamsia dan eklamsia adalah terminasi
kehamilan. Eklamsia dan pre-eklamsia berat membutuhkan
antikonvulsan dan antihipertensi. Perawatan untuk pre-eklamsia
biasanya terdiri dari istirahat total (bed-rest), pemberian magnesium
sulfat, obat antihipertensi, pemberian cairan serta glukokortikoid
(dexamethason) untuk mempercepat pematangan paru janin.
Kehamilan diterminasi jika tekanan darah tidak terkontrol, terjadi
gawat janin, solutio placenta, perburukan fungsi ginjal, sindrom
HELLP, perburukan gejala klinis dan usia kehamilan mencapai 34
minggu.
Magnesium sulfat, sebagai antikonvulsan, diberikan secara kontinu.
Magnesium sulfat akan melewati plasenta dengan mudah dan
mencapai keseimbangan di dalam darah janin, serta sedikit masuk
ke dalam cairan amnion. Kadar normal tidak menimbulkan
masalah, ibu boleh tetap memberikan ASI, tetapi kadar tinggi bisa
menyebabkan depresi nafas neonatus saat lahir.
Ibu dengan eklamsia biasanya dirawat di ruang intensif dengan
pemakaian obat-obat antikejang, seperti fenobarbital. Obat-obat anti
hipertensi yang biasa diberikan pada pre-eklamsia adalah hidralazin,
nifedipin dan methyl dopa, secara umum tidak menyebabkan
gangguan apa-apa ke bayi. Pada suatu penelitian, labetalol ditemukan
menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. ACE inhibitor tidak
dianjurkan pemakaiannya pada trimester kedua dan tiga, karena
menyebabkan oligohidramnion yang berakibat kecacatan pada bayi,
seperti malformasi dan kontraktur ekstremitas.
Kadang-kadang ibu memerlukan obat-obat yang bisa memberikan
efek negatif ke bayi. Jika hal ini terjadi, ASI tetap dikeluarkan dengan
tujuan untuk menjaga produksi ASI, tetapi tidak diberikan ke bayi,
sampai ibu tidak mengkonsumsi lagi obat yang dimaksud. Sementara
itu bayi boleh diberikan ASI donor dengan cara disendokkan.

Perawatan/isolasi ibu
Jika ibu berada dalam perawatan intensif, ASI tetap bisa dikeluarkan
dengan bantuan pompa oleh perawat yang terlatih atau konsultan
laktasi. ASI perah boleh tetap disendokkan ke bayi, jika obat-obat
yang diberikan kepada ibu temasuk kategori aman. Usahakan
untuk tidak memberikan ASI perah dengan dot/botol karena bisa
menyebabkan bingung puting.
Manajemen stres pada ibu secara keseluruhan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari terapi. Kecemasan ibu untuk
bisa merawat bayinya harus diatasi dengan diskusi terbuka dan
kepada ibu diterangkan langkah-langkah yang akan dilakukan
untuk menolong ibu menyusui. Pada saat ini, yang paling penting
adalah komunikasi dengan ibu tentang harapan atau kebutuhan
ibu sehubungan dengan proses menyusui.
Kesimpulan
Pada pre-eklamsia, ASI tetap bisa diberikan dengan memperhatikan
masalah yang mungkin dihadapi bayi. Bayi seringkali terlahir kecil
dan prematur, sehingga mungkin dirawat intensif. ASI diberikan
sesuai kondisi bayi.
Kelahiran dengan operasi Caesar, akan membuat ibu terganggu
secara psikis, tetapi sebenarnya tidak mengganggu produksi ASI.
Ibu bisa menyusui sesuai kemampuan ibu, memberikan ASI dengan
berbaring segera setelah memungkinkan.
Secara umum, obat-obatan yang digunakan pada pre-eklamsia
tidak mengganggu proses menyusui. Jika terdapat obat yang bisa
berpengaruh kepada bayi, ASI tetap diperah, tetapi tidak diberikan
kepada bayi, sampai obat tersebut dihentikan.

Sumber : Buku Indonesia Menyusui
Penulis : Rizalya Dewi

2.9 Obat pre dan eklamsia

Pengobatan Medisinal
____________________
Pengobatan medisinal pasien pre eklampsia berat yaitu :
1. Segera masuk rumah sakit
2. Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks
patella setiap jam.(3)
3. Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125
cc/jam) 500 cc.
4. Antasida
5. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
6. Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat
7. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah
jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im.
(4)
8. Antihipertensi diberikan bila :
a. Desakan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP
lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105
mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta.
(8,9)
b. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
c. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-
obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang
biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan
dengan tekanan darah.
d. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet
antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali.
Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai
diberikan secara oral. (Syakib Bakri, 1997)
9. Kardiotonika
Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi
cepat dengan cedilanid D.
10. Lain-lain :
- Konsul bagian penyakit dalam / jantung, mata.
- Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius dapat
dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc
IM.
- Antibiotik diberikan atas indikasi.(4) Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam/IV/hari.
- Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat
diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam
sebelum janin lahir.
Pemberian Magnesium Sulfat
—————————
Cara pemberian magnesium sulfat :
1. Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20 % dalam 20 cc) selama 1 gr/menit
kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr
di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jarum no
21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2%
yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.(6)
2. Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian
dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian
MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.(3)
3. Syarat-syarat pemberian MgSO4 :( 4,7)
- Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10%, 1 gram (10% dalam 10
cc) diberikan intravenous dalam 3 menit.
- Refleks patella positif kuat
- Frekuensi pernapasan lebih 16 kali per menit.
- Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam).
4. MgSO4 dihentikan bila :( 7)
a. Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis
menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya
dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernapasan
karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter.
Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq
terjadi kelumpuhan otot-otot pernapasan dan lebih 15 mEq/liter terjadi
kematian jantung.(3,7)
b. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat :( 7)
- Hentikan pemberian magnesium sulfat
- Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam
waktu 3 menit.
- Berikan oksigen.
- Lakukan pernapasan buatan.
c. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah
terjadi perbaikan (normotensif).
Pengobatan Obstetrik
_____________________
Cara Terminasi Kehamilan yang Belum Inpartu
———————————————
1. Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai Bishop 5 atau lebih dan
dengan fetal heart monitoring.(4)
2. Seksio sesaria bila :
- Fetal assesment jelek
- Syarat tetesan oksitosin tidak dipenuhi (nilai Bishop kurang dari 5) atau adanya
kontraindikasi tetesan oksitosin.
- 12 jam setelah dimulainya tetesan oksitosin belum masuk fase aktif. Pada
primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesaria.
(1,2) 

0 comments:

Post a Comment